Minggu, 07 April 2013
*dilema
sempurna tak sempurna
dirimulah tetap terindah
aku papar sang langit melukis
indah tak indah
tak perlu adanya
biar saja waktu berkisah
Engkau Wahai Sang Cipta
Maha Kehendak Segala
aku berdiri di rumpun ini
bersama Merpati putih nan setia menanti
peduli tak peduli
hal ini telah abadi
memilih raga untuk jiwa
seandai detik enggan berdawai
seakan sukar tentang mengerti
sebulir tanya hanya sia
sepatas ucap tak jauh membual
fikirkan tentang akan rasa
inikah kebingunan cinta ?
tentang apakah ia tercipta
*detik langkah ini bersama pijak hari
bertiang diantara batang rumpang
menyandang dibalik ilalang gesang
tersandar biar alir derai tanya silang
setajam rumpun melalang
sejajar mentari berbinar bilang
awan lukis indah jagat
antara tanya dan jawab
embun nan menetak jaya
baris rumpun helai daun meliuk
bertiang diantara daun rumpang
sirna ini perlahan kabut petang layang
hasrat pelupuk mimpi malam tadi
hari ini telah sudahi
pergi. . .
pergi,
pergi. . . . dan pergi.
jadi kisah sisa hari kemarin
seruncing kata nan bunda cipta,
bersama do'a biar mengajar. . . .
menyandang dibalik ilalang gesang
tersandar biar alir derai tanya silang
setajam rumpun melalang
sejajar mentari berbinar bilang
awan lukis indah jagat
antara tanya dan jawab
embun nan menetak jaya
baris rumpun helai daun meliuk
bertiang diantara daun rumpang
sirna ini perlahan kabut petang layang
hasrat pelupuk mimpi malam tadi
hari ini telah sudahi
pergi. . .
pergi,
pergi. . . . dan pergi.
jadi kisah sisa hari kemarin
seruncing kata nan bunda cipta,
bersama do'a biar mengajar. . . .
*tetap menanti
perbedaan senantiasa menyakitkan
sebelah mata terhiraukan
malam saksikan,
tak kunjung tenang
pita berurai, berderai
ruak lambat terbengkalai
satu tanya,
apakah indah? ?
aku cinta,
dan aku kisah. . .
tanpa balas
utuh duka,
berharap tak mengerti 'kan
ini semua mengerikan
simpang jalan lalui tanya
titik rasa bersama diantara
rumput gelisah dilema angin lantah
duri mawar balut tawa. . .
karena ku tetap cinta
biar rasa ini aku punya
tak harap kau balas
hanya ingin kau tahu ini
aku disini 'tuk menanti sampai saat kau mengerti. . . .
sebelah mata terhiraukan
malam saksikan,
tak kunjung tenang
pita berurai, berderai
ruak lambat terbengkalai
satu tanya,
apakah indah? ?
aku cinta,
dan aku kisah. . .
tanpa balas
utuh duka,
berharap tak mengerti 'kan
ini semua mengerikan
simpang jalan lalui tanya
titik rasa bersama diantara
rumput gelisah dilema angin lantah
duri mawar balut tawa. . .
karena ku tetap cinta
biar rasa ini aku punya
tak harap kau balas
hanya ingin kau tahu ini
aku disini 'tuk menanti sampai saat kau mengerti. . . .
*tentang malam
pertanyakan waktu kala bersandar pada kelabu malam,
sesunyi ruat apakah ia akan jawab,
segumpal lirih tertatih perih
sunyi, ,
sunyi, , ,
pedih. . .
biar ambil
dan disini beri arti bersama bintang yang menari,
sesunyi ruat apakah ia akan jawab,
segumpal lirih tertatih perih
sunyi, ,
sunyi, , ,
pedih. . .
biar ambil
dan disini beri arti bersama bintang yang menari,
*dilema (vol. II)
tak pernahkah kau sadar akanmu, akan adamu . .
salah egomu itu pendam tawa
sisa duka tak salah
memang hina tuk akui
tak mudah layaknya menepuk jari
tapi ini benci
benci yang bertanya pada kisah
apa hari ini kan ada
lelah mengharap . . .
letih menanti. . .
sabar 'tuk terkapar pada waktu tidak menentu
pergi lebih baik, mencari arti lain
benamnya pada sayang bodoh
kasih terpentok
hah. . sisa sesal kau buat
kini biar pergi rasa ini
terselimuti hilir angin
kala senja menanti di dera puing
salah egomu itu pendam tawa
sisa duka tak salah
memang hina tuk akui
tak mudah layaknya menepuk jari
tapi ini benci
benci yang bertanya pada kisah
apa hari ini kan ada
lelah mengharap . . .
letih menanti. . .
sabar 'tuk terkapar pada waktu tidak menentu
pergi lebih baik, mencari arti lain
benamnya pada sayang bodoh
kasih terpentok
hah. . sisa sesal kau buat
kini biar pergi rasa ini
terselimuti hilir angin
kala senja menanti di dera puing
*cerita di sela langit
terpancar kadang terang pula kelam
seperti tertanggal atau tidak ia tetap bercerita
berkisah bersama seribu tanya
namun bahkan berjuta
atau mungkin hal bintang serupa
kilau sungguh tak ada ragunya
seperti petak awan bawa hujan
pedih nya tak terelakan
enyahkan tawa sesaat benam
diantara kelabu mendung selimuti
tak kadang pula awan bertemankan terik
membasuh penat beriring letih
sekata tepat angin melirih mencipta melodi
alunan nan lepas kebingungan
kepenatan
jenuh merasuk. . .
dan aku kisah hari ini yang akan usang esok hari bersama awan lalui
lepas detik berganti kata tanpa sisi dan disini jadi memori kendali lusa pagi tetap bersama awan nan tegas selimuti
seperti tertanggal atau tidak ia tetap bercerita
berkisah bersama seribu tanya
namun bahkan berjuta
atau mungkin hal bintang serupa
kilau sungguh tak ada ragunya
seperti petak awan bawa hujan
pedih nya tak terelakan
enyahkan tawa sesaat benam
diantara kelabu mendung selimuti
tak kadang pula awan bertemankan terik
membasuh penat beriring letih
sekata tepat angin melirih mencipta melodi
alunan nan lepas kebingungan
kepenatan
jenuh merasuk. . .
dan aku kisah hari ini yang akan usang esok hari bersama awan lalui
lepas detik berganti kata tanpa sisi dan disini jadi memori kendali lusa pagi tetap bersama awan nan tegas selimuti
*merah bersama duri mawar
menjauh bukanku ragu
hanya saja butuh waktu
'tuk lebih memahami hatimu
dan aku rasa kau pun begitu
pemaksaan ini tak mestinya
sebagai rasa kan mengalahkan semua
biar jelang sesaat kita berai
semampunya hal ini kan bertahan
semua kan nyata saat waktu tiba
bawa kita tawa jauh seakan duka
tapi kapan? ?
kapan ?
dan kapan ? ? ?
terkadang memang menyulitkan
tak seperti apa di pikiran
hal kecil sungguh melilit
mawar merah berduri tlah tak segar lagi. .
lagi. . .
lagi
layu. ,
hanya saja butuh waktu
'tuk lebih memahami hatimu
dan aku rasa kau pun begitu
pemaksaan ini tak mestinya
sebagai rasa kan mengalahkan semua
biar jelang sesaat kita berai
semampunya hal ini kan bertahan
semua kan nyata saat waktu tiba
bawa kita tawa jauh seakan duka
tapi kapan? ?
kapan ?
dan kapan ? ? ?
terkadang memang menyulitkan
tak seperti apa di pikiran
hal kecil sungguh melilit
mawar merah berduri tlah tak segar lagi. .
lagi. . .
lagi
layu. ,
*menulis arti lukisan langit (awan)
seluas awan memandang hari
berkisah seribu kisah misteri hanya saja berujung pada lautan tanya tak pernah berakhir, . . .
seperti lugunya raut bayi bahkan enggan sukar mengerti,
tunjuk satu jari helai lembar catatan berdebu lalu kisah kemarin.
menerpa mimpi angan jadi sisi berharap diantara arti bertaburan bersama hari
secepat timah besi tiada arti 'tuk memati
seruncing bambu terjang hal itu
keringat bersama emban keindahan
satu jalan terkam perjuangan
biar jadi kisah seraya negeri awan
bawa kenangan juang di tangan kehampaan
kejayaan . . . .
dan cerita 'tuk esok hari
biar kita cipta bersama detik ini
goresan pena ini
walau menghitam lembaran
berirama tawa duka seakan awan langit melanglang seraya
berkisah seribu kisah misteri hanya saja berujung pada lautan tanya tak pernah berakhir, . . .
seperti lugunya raut bayi bahkan enggan sukar mengerti,
tunjuk satu jari helai lembar catatan berdebu lalu kisah kemarin.
menerpa mimpi angan jadi sisi berharap diantara arti bertaburan bersama hari
secepat timah besi tiada arti 'tuk memati
seruncing bambu terjang hal itu
keringat bersama emban keindahan
satu jalan terkam perjuangan
biar jadi kisah seraya negeri awan
bawa kenangan juang di tangan kehampaan
kejayaan . . . .
dan cerita 'tuk esok hari
biar kita cipta bersama detik ini
goresan pena ini
walau menghitam lembaran
berirama tawa duka seakan awan langit melanglang seraya
*transisi elegi drama hidup ini,
Elegi ini memang tak pernah berakhir, seperti langkah ini hari mengawali jejak menemani sang matahari. Meski ia sendiri, tak elaknya dalam letih atau rintih. Melodi kicau sang kenari pun hadir singgahi pagi buta di dusun senja ini.
Tak sejalan seperti hal di bawah langit metro, rintihan dan jeritan mesin buat pagi jadi rungsing.
Gedung nan menjulang tinggi takan berarti seperti 30 inchi pohon jati, materi menjadi satu titik, satu alasan akan kehidupan.
Tak sadar mereka perlahan menjauh dari alam, dari hidup mereka sendiri bahkan. Alunan jalan yang meretak panjang nan julang, tiada lagi kabut pagi sisa semalam hadir di antaranya.
Sosok berdasi tak memiliki arti, tak ada apa-apanya bersama kelimpahannya, lain hal bersangkut di antara ranting pohon yang rempil di tengah belantara, yang singgah manusia kuat. Kuat akan dunia, hidup bersandar pada alam dan hidup sadar akan alam.
Berhaklah kita memegang dunia, maka singgalah rasa sadar diantara kekhilavan teremban. Rekrontruksi, walau hidup tak abadi setidaknya menjadi lebih baik.
Halnya berfikir hari kemarin, hari ini, bahkan untuk nanti jelang masa akhir sisa usia lusa ini.
Gunakan dasi itu seharus seperti memakai celana dalam. Tak indah mungkin lebih baik, lebih baiklah kan cipta lebih dari pada indah.
Indah tak segalanya, kekurangan satu kesempurnaan.
Biar kaki ini langkahi jalan setapak,
lepas harap ini hingga telur kan meretas,
kepak sayap kecil diantara awan luas,
petik bintang redup bawa di hela pekat malam,
buka satu sisi di pinta jendela dunia,
lepas tetes keringat payah basuh,
Tak sejalan seperti hal di bawah langit metro, rintihan dan jeritan mesin buat pagi jadi rungsing.
Gedung nan menjulang tinggi takan berarti seperti 30 inchi pohon jati, materi menjadi satu titik, satu alasan akan kehidupan.
Tak sadar mereka perlahan menjauh dari alam, dari hidup mereka sendiri bahkan. Alunan jalan yang meretak panjang nan julang, tiada lagi kabut pagi sisa semalam hadir di antaranya.
Sosok berdasi tak memiliki arti, tak ada apa-apanya bersama kelimpahannya, lain hal bersangkut di antara ranting pohon yang rempil di tengah belantara, yang singgah manusia kuat. Kuat akan dunia, hidup bersandar pada alam dan hidup sadar akan alam.
Berhaklah kita memegang dunia, maka singgalah rasa sadar diantara kekhilavan teremban. Rekrontruksi, walau hidup tak abadi setidaknya menjadi lebih baik.
Halnya berfikir hari kemarin, hari ini, bahkan untuk nanti jelang masa akhir sisa usia lusa ini.
Gunakan dasi itu seharus seperti memakai celana dalam. Tak indah mungkin lebih baik, lebih baiklah kan cipta lebih dari pada indah.
Indah tak segalanya, kekurangan satu kesempurnaan.
Biar kaki ini langkahi jalan setapak,
lepas harap ini hingga telur kan meretas,
kepak sayap kecil diantara awan luas,
petik bintang redup bawa di hela pekat malam,
buka satu sisi di pinta jendela dunia,
lepas tetes keringat payah basuh,
*ingat Ibu
kasihi ibu mu seperti apa ia menyayangmu
patutlah berlutut sentuh 'tuk buai telapak indahnya
tak sekira waktu bisa berujung saat itu
rahim saksikanmu
tercipta berwujud rupa
betapa hinanya kau palingkan rautmu darinya
berlututlah sebelum ia berkata
maaf ucaplah selagi tak tertelan murka
Tuhan Yang Kuasa
senantiasa dengar apa yang ia kecap walau tak bernada
basuhlah telapaknya
agar mulia di hadap Tuhan
meski jauh do'anya sertaimu
selagi masih bersimpuh di tanah raya ini
waraskan pikiran jauhkan dari kekilafan
jangan engkau busungkan dada
di hadap ibumu
bertunduk bersimpuh berlutut
mohon Ridhonya
kelak kau kan selamat dunia akhirat . . .
patutlah berlutut sentuh 'tuk buai telapak indahnya
tak sekira waktu bisa berujung saat itu
rahim saksikanmu
tercipta berwujud rupa
betapa hinanya kau palingkan rautmu darinya
berlututlah sebelum ia berkata
maaf ucaplah selagi tak tertelan murka
Tuhan Yang Kuasa
senantiasa dengar apa yang ia kecap walau tak bernada
basuhlah telapaknya
agar mulia di hadap Tuhan
meski jauh do'anya sertaimu
selagi masih bersimpuh di tanah raya ini
waraskan pikiran jauhkan dari kekilafan
jangan engkau busungkan dada
di hadap ibumu
bertunduk bersimpuh berlutut
mohon Ridhonya
kelak kau kan selamat dunia akhirat . . .
*bersama maaf terakhir. . .
tak setitik pun aku bermaksud
tak sepetak aku pernah fikir
ketika itu gugur daun kering
dan aku berpaling
harus kau marah
harus kau hina
aku yang tak berguna
bersama ini aku hanya berlari
namun,
marahku bertuju
walau bukan maksud ini
'tuk sakiti tapi rasa penuh arti
maaf 'tuk kali ini
aku harus pergi tinggalkan sini
walau kan berbekas dihati
aku tak bisa kembali, meski di lain hari
pegang saja pundaku sesaat
dan biarkan ku pergi buang ini perih. . . .
lepas hina mu kala tak kurengkuh
,bukan begitu ?
berikan senyuman itu saat ku langkah jauh. . . .
bersama maaf yang terdalam
ijinkan ku kecup keningmu disaat terakhir kita ini bertemu,
bukan inginku 'tuk campakkan mu
dan ini lebih lebih berarti
aku pergi sore ini di sandar labuh terakhir
maaf. . .
maaf. . . .
untuk malam ini pun tak lagi bisa ku beri hangat seperti dulu kala hujan turun
biar selimut hapus tetes air matamu tuk lupakanku. . .
// : untuk adinda nan jauh disana kini aku sesal
kesal saat itu kita jumpa
tak sepetak aku pernah fikir
ketika itu gugur daun kering
dan aku berpaling
harus kau marah
harus kau hina
aku yang tak berguna
bersama ini aku hanya berlari
namun,
marahku bertuju
walau bukan maksud ini
'tuk sakiti tapi rasa penuh arti
maaf 'tuk kali ini
aku harus pergi tinggalkan sini
walau kan berbekas dihati
aku tak bisa kembali, meski di lain hari
pegang saja pundaku sesaat
dan biarkan ku pergi buang ini perih. . . .
lepas hina mu kala tak kurengkuh
,bukan begitu ?
berikan senyuman itu saat ku langkah jauh. . . .
bersama maaf yang terdalam
ijinkan ku kecup keningmu disaat terakhir kita ini bertemu,
bukan inginku 'tuk campakkan mu
dan ini lebih lebih berarti
aku pergi sore ini di sandar labuh terakhir
maaf. . .
maaf. . . .
untuk malam ini pun tak lagi bisa ku beri hangat seperti dulu kala hujan turun
biar selimut hapus tetes air matamu tuk lupakanku. . .
// : untuk adinda nan jauh disana kini aku sesal
kesal saat itu kita jumpa
*waktu terindahku
saat suara itu berseru
ketika IA memanggilku
rapuh masih
terasa ragaku
alunan indah nan tercipta
tuk buai aku di sengatnya
tuk pinta yang aku minta
bersama ASMA' terucap DO'A
aku pasrah bersandar
ucap ingat kala sesat
'tuk berintih mohon ampunan
gemuruh itu mengingatkan
kembali dimana jalan
jalan antara aku dan DIRI- MU
Tuhan Terindah Dalam Hidupku
Engkaulah di hidupku, ALLAH
ALLAH yang selalu tahu dimana aku berteduh
karena Engkau Satu
biar aku selalu ingat Hal-Mu berseru dengan senandung Asma-Mu. . .
biar pagi ini terbangunkan
Adzan merdu dari Surga
walau aku terlarut dalam dosa
biar waktu itu hanya kilaf
dan aku tak seperti apa yang mereka tanya. . . .
tapi biar waktu esok pagi kan jawab seperti apa raga ini. . .
tak berpangku pada nasib
hingga waktu tak berujung
berselimut selalu seru senandung
sampai ajal KAU beri detik nanti
ketika IA memanggilku
rapuh masih
terasa ragaku
alunan indah nan tercipta
tuk buai aku di sengatnya
tuk pinta yang aku minta
bersama ASMA' terucap DO'A
aku pasrah bersandar
ucap ingat kala sesat
'tuk berintih mohon ampunan
gemuruh itu mengingatkan
kembali dimana jalan
jalan antara aku dan DIRI- MU
Tuhan Terindah Dalam Hidupku
Engkaulah di hidupku, ALLAH
ALLAH yang selalu tahu dimana aku berteduh
karena Engkau Satu
biar aku selalu ingat Hal-Mu berseru dengan senandung Asma-Mu. . .
biar pagi ini terbangunkan
Adzan merdu dari Surga
walau aku terlarut dalam dosa
biar waktu itu hanya kilaf
dan aku tak seperti apa yang mereka tanya. . . .
tapi biar waktu esok pagi kan jawab seperti apa raga ini. . .
tak berpangku pada nasib
hingga waktu tak berujung
berselimut selalu seru senandung
sampai ajal KAU beri detik nanti
*hujan turun lagi...
pertanyakan soal semalam
seteguk ludah cipta kita amarah
apakah itu cerita
apa mungkin kisah. . .
ah. . . . hanya salah
salah yang perlu ada
dan ada saat kita bertingkah
satu paham terkait kehidupan
waktu hanya terkadang
tak jua sesaat hilang
hening rasa ini
entah pedih
entah sakit
entah perih
apa hanya aku tak mengerti. . .
tersirat saat hujan turun
termangu hanya melamun
sesaat ketika kata itu berayun
tak elak buat suntuk tak berdusun
berias cahya kilat sesaat raut mengerat
terterkam kulit diantara urat
aku hina
sehina sampah berlumur dosa
aku campa
bagai bunga tak bermahkota
aku kias
tak pernah serupa
aku jalang
tak ada indah bak ilalang di belantara padang
engkau tinta
tinta tergores pena
saat kertas bercucur tanya
kau cerita semalam ?
aku ingat saat ini kemarin terjadi
malam di mana turun hujan temani emosi
dan di sela itu waktu kita sesali
seteguk ludah cipta kita amarah
apakah itu cerita
apa mungkin kisah. . .
ah. . . . hanya salah
salah yang perlu ada
dan ada saat kita bertingkah
satu paham terkait kehidupan
waktu hanya terkadang
tak jua sesaat hilang
hening rasa ini
entah pedih
entah sakit
entah perih
apa hanya aku tak mengerti. . .
tersirat saat hujan turun
termangu hanya melamun
sesaat ketika kata itu berayun
tak elak buat suntuk tak berdusun
berias cahya kilat sesaat raut mengerat
terterkam kulit diantara urat
aku hina
sehina sampah berlumur dosa
aku campa
bagai bunga tak bermahkota
aku kias
tak pernah serupa
aku jalang
tak ada indah bak ilalang di belantara padang
engkau tinta
tinta tergores pena
saat kertas bercucur tanya
kau cerita semalam ?
aku ingat saat ini kemarin terjadi
malam di mana turun hujan temani emosi
dan di sela itu waktu kita sesali
Langganan:
Komentar (Atom)