Cukup terang saja tetesan ini memeluk pedih disebrang senja yang merona
Tak ada tara ribuan titik bening nan tertata jelita membalut luka bagi yang dilema
Ranting mawar namun tersenyum ria
seperti senyum seusai lelah penat dibasuh keringat
Jauh nan disana samudra memisah kerinduan
sedalam misteri palung lautan bermuda
Tak sadar
tetesan ini hinggap
membasuh lekat bedak anggun
serta
memandikan kuyup aroma tubuh
Awan sudah runtuh
ambruk dipalung hati tersunyi menyelimut ragu
Rindu di atap pondok kumuh itu berlalu
tersapu gagah tegak angin melaku...
Biru itu kini menjadi abu
jauh dipelupuk harap
perlahan kian meneteskan luka nan anggun
merebak dalam isak tangis hampa
kerinduan raga dibawah gelapnya awan sore ini....
Rintik riang gerimis sore ini telah banyak hadirkan kerinduan ini kala aku sang penyamun duduk tergeletak dikursi renta pondok beratapkan dedaunan rimba dipinggir jalanan orang-orang yang memakai jas khas singgasana para raja...
Namun sekarang
pujangga sudah pernah bilang
biar saja ada rerumputan dibalik rindang ilalang
esok atau lusa bintang akan kembali cerah benderang
sehalnya daun kering jatuh kemudian perlahan dahan lagi kian menumbuh....
atau
selayaknya atap jalang tertimbun cerita kusam dikala hujan turun terang....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar