Gemih debu mengepul
melirik kasat sedikit kabur di perempat sudut paruh
setapak tali ulur jalur
bising lubang jalang bersahaja mengumandang di sudut perempatan malang
disaksikan kepulan secangkir penangkal lelap
bersanding sungguh hidangan sang penakluk singgasana malam
aroma aspal nian jelas temani ocehan riang
meski,
lubang jalang sepertinya sungkan terlelap....
sosok lelah jas berdasi
cendekia yang bermimpi
galengan kota membahu mereka
pula serta sahaja senyum para peracik pawon kota setia merayu saku untuk merujuk......
bergelimang mencibir bintang malam ini
dan separuh gelap riasan bulan yang membisik
begitu indah memahkota putri malam duduk tegas merias angkasa
asap tembakau terus menggerutu
menyelimut telanjang kabut ruah menyerta setangkai gagang malam
ini malam ini
ini malam kemarin
ini malam nanti
ini malam tadi
dianjung bahu galengan kota ini
diruas mimpi tampan ini
dihangat pelukan ocehan kata jas berdasi
tegaslah
lubang jalang itu akan tenang mengenakan debu jalang yang ia lewati
lalu
tegaslah
putri malam akan mengenakan caya menemani mimpi disaat terpejam nanti
teruntuk esok hari mentari yang berjanji sinari
teruntuk lusa nanti perempat sudut ini sunyi dari lubang bising
teruntuk hari ini, teruslah kita bermimpi menatap langit
dan teruntuk malam ini, tuangkan air kedamaian lepaskan pikiran mengakar di dengkul ini
agar sore nanti mentari suguhkan basuhan dingin menyaksikan ilalang menari bersama sendu angin yang mengalur mimpi petang nanti di tenang perempatan bahu separuh jalan .......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar