Minggu, 07 April 2013

*Pantaskah...

Apa yang aku pikirkan sekarang tak jelas bersudut ... 
Arah mata hati begitu memilukan buat diungkapkan, 

Bahkan aku lupa jalan pulang, 
atau 
darimana cerita menggeliat jadi dendang datang 

Dulu saja kita saling membahu memikul runcing bambu tanpa harus memandang kancing baju, 
begitu lugu meski bermandikan payau air keringat bau, 

bahkan mungkin saja mereka yang di garis merah bermandikan hangat aroma darah, 

entah berapa lama jelasnya pring gading telah satukan tekad semua umat, berdiri kokoh di medan laga melemparkan lembing, 
agar anak-anak mereka pulas tertidur di pangkuan ibu, 


Dulu, Kita begitu kuat, meski tanpa baju zirah .. 
Nyali kita tak gentar walau ribuan biji panas kompeni jahanam menyerang, 

sampai-sampai pada akhirnya Dewa sadar menebus kesalahan-Nya, 
Ia kembalikan semua kemerdekaan kita, 
Ia kembalikan nafas kita, hingga dunia tahu, bahwa kita tak pernah takut misil-misil Jepang ataupun Amerika menyerbu.. 

Kita usir bengis-bengis itu ke tanah makam mereka, 

Tanpa pernah tersadar, 
kucuran keringat itu ternyata satu akar, Hingga sampai saat sang garuda benar-benar terlepas dari sangkar emasnya ... 

Namun apa? 

Itu semua cerita dulu... Itu cuma dongeng saja.. Semuanya tidak seharusnya, 
Sepertinya hari ini sudah tidak akan ada lagi genggaman-genggaman tangan seperti mereka, 
sudah tak ada lagi pring gading runcing gagah seperti dulu kala, 
sekarang mereka tinggal ukiran pena pada kertas usang, 
sekarang mereka begitu jelas terabaikan, 
mereka tersisih oleh sang penguasa jalang, Penguasa bergaun lugu berparas tampang sang kaisar penuh dengan kepalsuan 
Masihkah kau membara merahku diatas sana 
Masihkah kau suci putihku tuk berkibar 

dan masih pantaskah ditiang sana kusebut kau "merdeka..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar