Teruntuk adinda disana,
sejenak aku
Lelap sekejap malam ini ungkap
tanya menyisa memutus asa
aku harus bingung 'tuk menjadi sosok agung
dan aku tak seharus mahkota rumpun mengelus
biar saja jelata berkisah tentang perasaan cinta
bahkan seorang pujangga pun tak lelah menata kata
malam ini cuma sisa
pula engkau bernada dilema dengan pinta aku ucap
tutur ini sungguh berat
kala disamping dinda bercakap
terlalu memang aku menggantung
teruntuk engkau adinda,
menantilah menunggu hingga raut ini tak tersipu
namun jikalau waktu telah pergi dari sisimu
biarkan mentari pagi yang kan merengkuh aku,
juga apa jika aku telah laluh
cukup tinggal kenang itu
atau
saja
lupakan masa lalu
begitu tentang aku. . . . .
Maaf bukan tak mampu ungkap
hanya saja malam tak selagi penuh bintang
serta bulan lagi enggan berteman rayuan
buat tersayang,
tetapkan ini cerita berbubuh tawa
meski terkadang rana tak elak menyinggah,
karena engkau pula ini cerita berawal,
atau mungkin kelak esok kan akhiri
tenangkan gelisah atas raguku
pedamkan amarah untuk sebuah cemburu
tertuntut mencintamu
aku sang penyamun mengerti tentang rindu, bila saat ruang memisah
cerita ini takan terhabis hingga saat semua masih berawal,
aku dan ini
menulis lembar diantara hari
serta enggan berasa lirih
tetapkan aku yang tak mampu menyayangmu
teruntuk tersayang adinda
yang bimbang
akan ku tetap memandangmu sang pundak bulan
bingkai merangkai rangkak kecil merayap rindu
sepucuk ini memikul kisahku
memaku haru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar