Minggu, 07 April 2013

*sepucuk jawab buat dilema adinda,

Teruntuk adinda disana,


sejenak aku 
Lelap sekejap malam ini ungkap
tanya menyisa memutus asa
aku harus bingung 'tuk menjadi sosok agung
dan aku tak seharus mahkota rumpun mengelus


biar saja jelata berkisah tentang perasaan cinta
bahkan seorang pujangga pun tak lelah menata kata

malam ini cuma sisa


pula engkau bernada dilema dengan pinta aku ucap
tutur ini sungguh berat
kala disamping dinda bercakap
terlalu memang aku menggantung


teruntuk engkau adinda,

menantilah menunggu hingga raut ini tak tersipu
namun jikalau waktu telah pergi dari sisimu
biarkan mentari pagi yang kan merengkuh aku,
juga apa jika aku telah laluh

cukup tinggal kenang itu
atau
saja
lupakan masa lalu
begitu tentang aku. . . . .


Maaf bukan tak mampu ungkap

hanya saja malam tak selagi penuh bintang
serta bulan lagi enggan berteman rayuan


buat tersayang,

tetapkan ini cerita berbubuh tawa 
meski terkadang rana tak elak menyinggah,

karena engkau pula ini cerita berawal,
atau mungkin kelak esok kan akhiri 

tenangkan gelisah atas raguku
pedamkan amarah untuk sebuah cemburu
tertuntut mencintamu
aku sang penyamun mengerti tentang rindu, bila saat ruang memisah


cerita ini takan terhabis hingga saat semua masih berawal,



aku dan ini
menulis lembar diantara hari
serta enggan berasa lirih


tetapkan aku yang tak mampu menyayangmu




teruntuk tersayang adinda 
yang bimbang 


akan ku tetap memandangmu sang pundak bulan

bingkai merangkai rangkak kecil merayap rindu

sepucuk ini memikul kisahku
memaku haru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar