Lembut halus usapan butiran putih terpapar mengelus pijakan langkah jemari kaki ini
sesaat penat terkubur hening tersapu ria gelombang riangmu
Bali, senin kemarin
hamba terbuai dan terpaku hening
elok laksana singgasana dewa seperti hal pengembara bilang
lekat aroma pure-pure,
kain percak penuh syarat,
seserta sejuk bunga pagi menari di gerbang utama istana pemurah jagat
tak lelah rasanya kaki ini melangkah
walau
sepasang kelopak mata ini hanya mampu menatap selayang
hamba redupkan amarah
sejenak hembuskan nafas perlahan
begitu tak mampu percayai keagungan Tuhan
dahan patung kecil itu waspada amati
jejak nan kalut semrawut
Bali, senin kemarin
Terimalah kasihku...
arakmu luluh hangatkan keras raga ini
membalut tatapanku diantara celah langit
percayalah
ku akan kembali...
Setialah alunan melodi malam Sukowati menanti
disudut terang sore Kuta, mari kita kembali tuangkan secangkir air perdamaian
molek hasrat hamba semakin berani
tinggi....
Sarafku kini terhubung lagi
tegang pikir ini terlampau cepat sudahi bayangkan tentang pekarangan rumah di istana permaisuri
Sanur, senin kemarin
terima kasihku untuk lembut hangat pelukan putih pasirmu
kemayu karang telanjang menggodaku untuk bercumbu
bodohnya...
aku hanya pergi dan berlalu
bak mendung bingung
Sanur, Kuta, Bali
tetaplah menanti
esok aku kelak kembali...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar