Minggu, 07 April 2013

*Rana...

Mungil kerdil sungguh raut kelingmu 

terlalu lugu pesona tawamu 
dahan mawar bahkan lebih lunak iringi isakmu mengayuh kali kecil kumuh 


R......a.n....a 

gaunmu lusuh kusam tak berwujud kumuh berbumbu aroma pelacur sungguh 
dibawah gemericik liang terang padang rempilan kelip bintang 


Ran...a 

kecil tegas sorot kelopak biji putingmu 

dolly berbekas pelit kisahmu telanjang yang rumit merintih langit 
berbelit sengit rok mini berbalut lendir 


R...an....a 


sisa tawamu tak terhingga luruh 
ukir desah kala selembar dahan melambung jatuh 
enggan sungkan nafas riang tuk dihitung 

denyut gerakmu membumbung murung 
olesan lembut bulir riasan selir menebalkan senyum pedihmu 


malam itu, 
guntur teriak tak tersusun 
payung disudut rak kecil mahkota pelengkap 
tak sempat singgah ditelapak jemari dinginnya 

serentak rona bibirnya gemetar memipih 
kulit tipisnya mengantri untuk menggigil 

Rana 

sepucuk surat ibu memanggilmu 
pulanglah dengan gelak tangis tanpa tipu ragu 
lepas saja topeng bubuk yang berkisah kemarin malam itu 

lelah benar tatap senyummu 
mendesah tawa penuh belenggu 
sambil tenang tegang langkah usang usai mengangkang 

Rana.... 

pulang...! 

Ibumu bimbang..... 

Ia setia berbaring menantimu di ranjang 

diselimuti kelambu kusut rombeng tak genah 

Rana 

melati ranum berharap kau cumbu 



pulanglah dengan gaun lusuh pada ibumu 
lepas saja kancing canggung disakumu 


jangan biarkan sepenggal cerita ini yang aku kisahkan pada kelambu kusut ranjang ibumu... 







#lilin kecil di taman kota....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar