Mungil kerdil sungguh raut kelingmu
terlalu lugu pesona tawamu
dahan mawar bahkan lebih lunak iringi isakmu mengayuh kali kecil kumuh
R......a.n....a
gaunmu lusuh kusam tak berwujud kumuh berbumbu aroma pelacur sungguh
dibawah gemericik liang terang padang rempilan kelip bintang
Ran...a
kecil tegas sorot kelopak biji putingmu
dolly berbekas pelit kisahmu telanjang yang rumit merintih langit
berbelit sengit rok mini berbalut lendir
R...an....a
sisa tawamu tak terhingga luruh
ukir desah kala selembar dahan melambung jatuh
enggan sungkan nafas riang tuk dihitung
denyut gerakmu membumbung murung
olesan lembut bulir riasan selir menebalkan senyum pedihmu
malam itu,
guntur teriak tak tersusun
payung disudut rak kecil mahkota pelengkap
tak sempat singgah ditelapak jemari dinginnya
serentak rona bibirnya gemetar memipih
kulit tipisnya mengantri untuk menggigil
Rana
sepucuk surat ibu memanggilmu
pulanglah dengan gelak tangis tanpa tipu ragu
lepas saja topeng bubuk yang berkisah kemarin malam itu
lelah benar tatap senyummu
mendesah tawa penuh belenggu
sambil tenang tegang langkah usang usai mengangkang
Rana....
pulang...!
Ibumu bimbang.....
Ia setia berbaring menantimu di ranjang
diselimuti kelambu kusut rombeng tak genah
Rana
melati ranum berharap kau cumbu
pulanglah dengan gaun lusuh pada ibumu
lepas saja kancing canggung disakumu
jangan biarkan sepenggal cerita ini yang aku kisahkan pada kelambu kusut ranjang ibumu...
#lilin kecil di taman kota....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar