Sudah begitu asing bagiku pekarangan gandum merah itu dalam pandanganku
namun masih membaur dalam kecil ingatan saat mungil tubuhku mengangkat dan memindai tanah keras itu bersama pundak Ayahanda kekar membahu
Terlalu terlihat baru bagiku sumur dangkal yang pernah Ayah buatkan untuk memandikanku
Rindang dedaunan pisang meneduhkan lelapku di pangkuan seorang sosok Ibu yang tulus
bersama diiringi langkah kecil semut-semut lugu berbaris manis
Saat malam kunjung datang menjemput senja yang petang
padang lampu tempel jelas buat aku teringat masa dulu yang laluh lalang
atau seperti akar getah wali yang menggantikan kepahitanku tempo dulu dibalik belukar tarian ilalang tanpa bimbang
lagu-lagu sendu yang radio dendangkan ditiap hembusan lembut angit laut malam
menggerus rasa rinduku yang syahdu pada dipan yang membujur kaku dipinggir jendela renta kusam
jelaga lampu tempel menggariskan gelapku pada dunia yang fana
yang aku rasa,
hanya hangat seteguk teh kala gerimis reda bersanding dihadapan Ayah
bertatap cerita sambil bergurau bercengkrama
melihat betapa begitu luas kisah kita
ditengah senyuman Ibunda yang menghujam sahaja
jelas aku ingat kala setapak begitu kuyup basah
sangat nampak jelas mengecap jemari kakiku menapak
menjadi awal dari beberapa jejak
#aku, anak gubuk pinggir pelataran pipa-pipa pertamina.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar