Minggu, 07 April 2013

*hanya terkasih tak untuk dimiliki, (di ujung sia penyesalanku)

sudahlah kita tak mungkin bersama
biar hanya kuingat kala tawa yang jelang
bukanlah keinginan kita berpisah
dan aku bahagia saat bersamamu
meski serupa pena tapi biar saja

terlarut lama ku luluh pun untukmu
aku bahagia saat bersamamu
ini hanya seperti berangan dalam mimpi
untukku dan bagiku

kau tak pernah sendirian dan tak sendiri
hanya saja aku yang merasakan itu kala kau terengkuh olehnya

kau tercipta bukan untukku meski rasaku terus berbubuh
kau terindah tidak untuk ku punya
ku hanya pemuja
ku hanya pengagum
tak selebih dari sudut sisi
kau bintang benderangkan 
aku sebatas temaram lilin

waktu setelah waktu


dan pada harinya aku terus tertinggal langkah
terhabiskan kata 'tuk mengungkap

satu hal terbesar dirasa

namun sayang,
dinding kawan menghalang
hingga rasa ini terbentang membelakang


"untuk kawan 1906, maaf aku ternyata hanya harus bisa terluka menahan dusta yang ku punya, aku hanya rana, cukup kau bisa tetap menjaga sinarmu halnya bintang, mungkin waktu sejenak pisahkan kita, apa sudah takdir bertata kau dengannya ? 
tak ada cinta. . . .
mesti kata ini dusta dengan tawa tapi rasa ini sungguh melara beraduk cewa. . . ."

dan sejujurnya aku tak hanya rasa sobat yang kita jaga, semoga pula kau rasakan. . . .




mesti selalu ada pada waktuku
tapi kini kau hanya memori tentang sebuah sakit, , ,



terkasih sakit tak sampai elak,
berbilik berujung pada ranting
tersisih pergi pula rela,
berbisik awan kecil disana.

kuakui bodohku,

dan setiap malam yang kurasa
tanpamu lagi hanya sepi yang ku rasakan
maka izinkanlah aku peluk erat bayangmu,,,,,

terlaluh lelah aku bertahan,

dan aku diakhir hanya sesal
t'lah kau kenal . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar