Hijau luas memang ladang rumpun menata pelataran pagi ini
Embun subuh masih singgah diantara pipih kulit penuh akan wewangi
Teringat jelas akan seelok kupu riang menari diantara putik yang melirik
Kala tenang menghirup aroma alam nan sejuk sambil terdiam duduk
Sumur renta begitu kekal memandikan cerita
dihalaman rumah tua yang kini dimakan senja
Grendel jendela meringkik disapa angin lewat
Gagang pintu mengkarat payah
yang teringat
semua kisah saat Nora kecil riang menangis ditimang
sampai saat
Nora
mengerti kasih sayang tak terbatas
Bukanlah keinginan Nora belia bersama pundak yang keras
ia hanya mencoba menyentuh dunia dengan cahaya lilin kecil di genggamannya...
Lilin kecil yang teramat terang sirnakan kelip pelita binar bintang di ujung mata memandang
Namun,
kadang Nora jauh lebih ingat daripada ingatannya
dulu
ia kecil menangis dipelukan
lalu
kini
ia menangis tanpa tujuan
Ranting-ranting daun buah delima
di altar depan gubuk istananya setia memayung wajah bimbang tak kunjung reda
Nora,
mentari singgah tepat diatas ubun-ubunnya
menari riang memanggang
lagi-lagi
Tiang pondasi istana begitu sahaja temani Nora
Hingga hari ini Nora tetap bersama Nyonya Lian dibawah singgasana beratapkan daun lontar yang mengering keras
Tidak ada komentar:
Posting Komentar