Ibu, aku pamit pergi,
pergi menggali pikir
mungkin, aku akan selalu mondar-mandir
di ladang, sawah,
kebun,
mungkin juga pekarangan orang lain,
orang yang tak kikir
Ibu, aku pamit pergi
pergi memupuk pikir
andai ada waktu lebih,
aku akan datang walau hanya sekedar mampir,
sedari sisa jalanku dikampung orang,
dijalan perantauan yang tak ku tahu kapan kan berakhir
Ibu, aku pamit pergi,
sambil ku bawa pinta-pinta yang telah kau didik.
jikalau suatu hari engkau merasa ragu apakah aku akan balik
ku mohon Ibu beri saja doa yang terbaik
agar aku dalam lindungan Sang Pemilik
Ibu, aku pamit pergi,
bila aku lupa atau sengaja tak mengenalimu ketika aku hendak pulang kembali
kuingin Ibu doakan saja aku seperti Malin
semoga itu dapat tenangkan batin,
dan, biar saja air yang kemudian meruntuhkan keras batu jika kelak diriku bertindak sebodoh itu
Ibu, aku akan datang, pulang,
sebelum matahari tenggelam menjelang
jika kelak aku telah datang,
Ibu, peluklah aku dengan hangat dan tenang,
cumbui aku dengan belaian sayang,
tanpa perlu kau sandingkan bimban,
manja kan saja aku bak bayi ditimang ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar