Kamis, 04 April 2013

*Sungguh, Nona ...

Pantas,
sudah sepantasnya,

sungguh,


gaun itu,
menata aura
berias makhota puteri raja,


sungguh,

kau menawan, nona

pantas,

sudah sepantasnya,
dewa memandikanmu dengan seribu wangi aroma bunga-bunga taman surga


anggun,

sungguh,
kau begitu anggun,

cahaya bulan 'kan meredup,
olehmu,

oleh bening wajahmu,

nona,

percayalah



biar saja,
bintang mengintipimu,
di balik awan,
di balik gelap awan malam,



sungguh,


melatimu mencumbui harumnya mawar berduri

nona,
kau tak biasa,

benar,
dan aku,

sehelai cerita yang lapuk oleh ketidakmampuan,


lusuh,

kusam,

terlalu sibuk,

sibuk memperhatikanmu,

dan aku,
aku,
aku terhanyut,
tanpa sadar, melupakan kebiasaanku,

terlalu sibuk,
olehmu,
oleh lihai langkahmu dalam gaun itu,


mengoyak,
mencabik-cabik,
meliarkan,
aliran urat-urat sarafku



nona,

sungguh,
kau menawan
tanpa tipuan,

sayangnya,
lagi-lagi,
aku,
aku,
aku hany,
lagi,
terlalu sibuk,
sibuk,
sibuk perhatikan gerakmu,

aku,

aku,

aku sendiri kemana harus lanjutkan melangkah,
berjalan,
menyusuri setapak kecil,
apa harus tercebur dalam air sungai







nona,

kau
indah tanpa batas ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar