Kamis, 04 April 2013

*Mana Tuhanku?

Aku ingin sekali bermimpi,
namun, malam-malamku selalu saja hadirkan suara-suara bising dencing
di bawah kolong kumuh biru langit luas ini
Aku hanyalah duri kecil tangkai mawar yang baru saja mekar

Tuhan, padahal aku selalu berdoa pada-Mu
meminta dengan sujudku,
tapi, kapankah kau luangkan waktu-Mu mendengarkan ocehanku?
Apa suara-suara mesin itu yang lebih kau dengar lebih dahulu?
karena suaraku payau, tak lantang melenggang
pantas saja, inginku tak pernah kunjung datang, benarkan?

Tapi, sampai kapan?
sejak mentari baru saja bangun dari singgasana timurnya
besi-besi itu bahkan sudah nyaring mengalahkan kokok ayam jantan
dan juga,
rumput-rumput yang mengecup bibir sungaipun tak sempatnya mandi bening embun pagi

Tuhan, kasihan mereka
besi baja itu terlalu kuat dibengkokan dengan tenaga
lalu bagaimana aku harus terus berusaha?
Tuhan?
Tuhan? Apa memang Kau sudah berpaling pada mesin-mesin jalang itu?
Oh iya, aku lupa,
doaku tak akan terdengar,
suaraku payau tak terdengar

Aku lihat daun-daun angsana menguning renta
terhuyung jatuh ke tanah pelataran
burung-burung bernyanyi dan menari
tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar
"Hey apa tarian kalian adalah do'a yang sedang kalian panjatkan?"

Aku suntuk sendiri panas terik menusuk-nusuk tubuh ini
apalagi yang harus kulakukan?
tanganku hanya mampu menengadah pasrah
mulutku juga hanya bisa komat-kamit mengoceh pinta
Aku bukan siapa-siapa

Terdengar nada sumbang melayang
nyaring sekali
nada itu bersorak
"Tuhan t'lah diganti,
Uang adalah penguasa baru kita,"

sedangkan aku,
aku cuma orang miskin
bernafas saja dengan udara sisa-sisa mesin-mesin jalang itu
bagaimana aku akan berkuasa kelak
dasar penguasa jalang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar