Untuk senja,
di sore hari,
yang benamkan terik
Dan rembulan,
yang tak sempat sinari pekat juwita
semalam
Serta,
untuk batuan karang,
yang meskipun terjal dan keras,
tetap setia di hempas deburan ombak luas samudra,
Tidak lupa,
untuk kolong meja sekolah
yang diacuh
saat bel pulang berdendang lantang
Juga,
untuk hujan yang menangis
di pekat awan kusut dan muram
Begitupun,
Ibunda,
sumber kehidupan tanpa batas
terkasih dalam suci
Termasuk Ayah,
penegas cita-cita dan harapan penuh kegagahan
Kunjung juga kakak,
sahaja penyaji semangat
tanpa lelah
Sebut pula adik,
aliran sungai imaji
tak henti
mengalir
sampai pada
Sahabat, saudara, sahabat
telah sudi
membuang waktu bersama
Untuk teman, kawan, lawan
beri penjelesan "aku"
dalam semakin larut malam
dalam benam senja tenggelam
ada satu hal lagi,
untuk kasih,
yang tak sempat bertemu
angin mendesah,
tak berharap,
tak pernah untuk berharap,
disentuh, dipandang, atau dicumbu
Untuk kasih yang juga belum mampu "aku" pikir
Pagi nanti embun akan tetap bening bersemi di tiang tangkai rumpun rumput juga pula pada dahan-dahan bunga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar